Kebiri Sapi yang Menginspirasi Hukum Indonesia

Kebiri Sapi yang Menginspirasi Hukum Indonesia
Munculnya ide "Kebiri" bagi pelaku kejahatan pelecehan seksual menjadi kontroversi saat ini. Sebagian orang ada yang setuju dan sebagian tidak. Pada satu sisi kejahatan ini benar-benar berbahaya dan menghancurkan masa depan korban (terutama anak-anakn) sedangkan di sisi lain ada persaan iba kepada pelaku bila diberi hukuman kebiri.

Namun pada kesempatan kali ini kita membahas tentang Kebiri Sapi Potong. Salah satu proses dalam pemeliharaan ternak yang menginspirasi dunia hukum dan peradilan Indonesia.

Apa itu Kebiri?

Pertama tentu kita harus mengetahui dulu apa itu kebiri, terutama sekali bagi kamu yang belum tau sama sekali. Setelah ditelusuri di google ditemukanlah beberapa pengertian dan penjelasan tentang kebiri. Satu yang paling mudah dipahami penjelasannya adalah menurut Wikipedia yang mengatakan bahwa :
"Kebiri (disebut juga pengebirian atau kastrasi) adalah tindakan bedah dan atau menggunakan bahan kimia yang bertujuan untuk menghilangkan fungsi testis pada jantan atau fungsi ovarium pada betina. Pengebirian dapat dilakukan baik pada hewan ataupun manusia."
Jadi dalam bahasa sederhananya Kebiri bisa diartikan "Pemandulan", baik itu pada jantan maupun betina.

Sejarah Kebiri

Kebiri sebenarnya telah dilakukan semenjak zaman dahulu. Ada yang dilakukan karena dasar tradisi, perperangan, kejahatan, bahkan ada yang dilakukan demi mencapai tingkat sosial tertentu.

Contohnya pada saat ada perperangan atar suku atau kelompok. Pasukan yang berhasil memenangkan pertempuran akan mengkebiri/memotong kemaluan musuhnya. Mereka percaya bahwa ini adalah tindakan yang mengungkapan bahwa mereka telah mengalahkan kekuatan dan keperkasaan musuhnya. Dengan begitu merekalah pasukan yang paling kuat dan perkasa.

Sedangkan di kerajaan-kerajaan cina kuno, kebiri dilakukan kepada para penjaga atau pelayan yang bekerja melayani anggota keluarga kerajaan. Ini bertujuan untuk mencegah terjadinya perselingkuhan oleh selir-selir raja. Sistem ini berjalan efektif sehingga kerajaan-kerajaan lain juga mengadopsi sistem tersebut.

Pada wilayah bagian eropa praktek kebiri ini lebih cendrung terjadi karena keinginan sendiri. Ada sekte-sekte tertentu yang mempercayai bahwa adam dan hawa diusir ke luar surga karena menurutkan kehendak nafsunya. Untuk menghilangkan sifat-sifat tersebut anggota sekte ini melakukan kebiri pada diri mereka sendiri secara sukarela

Ada juga di kelompok-kelompok tertentu, kebiri dijadikan sebagai hukuman untuk pelaku penyimpangan homoseksual. Karena perilaku tersebut akan merusak moral dan mental generasi. Oleh karena itu pelaku harus dikebiri dan sering kali tindakan kebiri ini berujung pada kematian. Ini disebabkan karena pendarahan hebat yang terjadi.

Mengenai kebiri ini sebagian orang ada yang berpendapat bahwa ide kebiri pertama kali muncul karena insting dan rasa ingin tahu manusia zaman kuno. Manusia pada zaman kuno ingin mengetahui apa reaksi  dan apa yang terjadi bila seseorang dikebiri.

Pada zaman-zaman kuno ini kebiri dilakukan dengan teknik pembedahan. Karena cara ini lebih praktis dan mudah dilakukan. Selain itu pada zaman tersebut belum muncul ilmu dan teknologi secanggih sekarang ini. Setelah perkembangan zaman kebiri tidak lagi dilakukan dengan cara-cara kuno. Namun sudah menggunakan zat-zat kimia dengan teknik penyuntikan.

Apa Manfaat Kebiri itu?

Walaupun kebiri ini terlihat mengerikan namun juga memiliki manfaat, yaitu :

1. Dapat mengoptimalkan pertumbuhan daging ternak
Dengan dibuangnya alat reproduksi ternak otomatis seluruh nutrisi yang dikonsumsinya akan digunakan untuk pertumbuhan badan. Tidak ada lagi nutrisi yang digunakan untuk memproduksi hormon reproduksi.

Biasanya ternak yang telah dikastrasi pertumbuhan bobot badannya lebih tinggi dari ternak yang tidak dikastrasi. Perilaku yang lebih tenang dan tidak agresif meminimalisir pembuangan energi yang biasanya untuk berlari, bertarung dengan ternak lain dan untuk aktifitas lainnya.

2. Membuat ternak jadi jinak
Bila pada manusia ada sifat "Maskulin" maka pada ternak juga ada sifat maskulin. Ini terbukti dari perilaku ternak jantan yang suka berkelahi dan pamer kekuatan di hadapan betina. Terutama pada musim kawin dan saat-saat memperebutkan wilayah kekuasaan.

Namun yang terjadi setelah dilakukan kastrasi sifat "maskulin" ini hilang. Ternak jadi pendiam, tenang dan menghindar bila ditantang ternak lain. Selain itu insting untuk melakukan perkawinan juga menghilang.

Mengapa Kebiri Begitu Kontroversi?

Dengan penjelasan tentang kebiri di atas rasanya sangat menggerikan rasa sakit yang dirasakan oleh hewan atau orang yang dikebiri. Bayangkan saja luka di ujung jari, rasanya begitu perih dan sakit. Apalagi pada bagian-bagian vital tentulah rasa sakitnya jauh luar biasa bila dibandingkan dengan yang di ujung jari.

Karena membayangkan rasa sakit inilah membuat sebagian orang merasa iba dan kasihan kepada hewan dan manusia yang dikebiri. Biasanya orang-orang yang seperti memiliki rasa empati yang tinggi. Mereka cendrung merespon dan bertindak berdasarkan perasaan, terutama kaum perempuan.

Sedangkan sebagian lainnya lagi setuju akan tindakan kebiri ini. Adapun alasannya adalah dengan menggunakan kebiri pertumbuhan bobot badan ternak berkembang dengan cepat. Dengan begitu jumlah pendapatan dan keuntungan yang diterima juga lebih besar.

Sedangkan tindakan kebiri sebagai hukuman untuk pelaku kejahatan seksual didukung dengan alasan untuk memberikan efek jera. Bukan hanya kepada pelaku yang telah berbuat tapi juga kepada orang lain yang belum berbuat. Sehingga orang lain tidak akan berani lagi melakukan tindakan kejahatan seksual ini.

Bagaimanapun penerapan aturan kebiri ini ke depan, sebaiknya difikirkan dengan matang dampak positif dan negatif yang akan terjadi untuk jangka panjang. Baik itu pada ternak maupun pada manusia.

Bagaimana Kebiri itu Dilakukan?

Terus terang saja pada saat menulis bagian ini saya merasa "ngilu" dan "ngeri". Jadi khusus pada bagian ini kami sarankan kamu membacanya di salah satu sumber yang saya rasa cukup bagus di ilmuternak.com. Disana pembahasannya sangat mudah dipahami.

Bisakah kebiri diterapkan di Indonesia?

Untuk saat ini kami rasa masih belum bisa. Mengingat kondisi industri peternakan Indonesia masih belum berkembang (terutama peternakan sapi). Kita lihat industri peternakan di Australia, Amerika dan New Zaeland sudah sangat modern dan mereka memang membutuhkan sistem kebiri.

Bila industri peternakan Indonesia sudah berkembang dan mampu mewujudkan swasembada pangan barulah teknik kebiri ini diperlukan untuk mencapai produktifitas industri.

Walaupun pelaksanaan kebiri ini penuh dengan kontroversi namun kita harus senantiasa bijak dalam mengambil keputusan. Apakah setuju atau tidak harus difikirkan dengan matang. Kami akan sangat senang bisa mendengar pendapat kamu melalui kolom komentar di bawah ini.kjkjkjkj.

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Kebiri Sapi yang Menginspirasi Hukum Indonesia"

  1. Saya sih sebenarnya tidak setuju dengan hukuman kebiri diberlakukan, karena memang dalam agama saya (islam) tidak ada hukum kebiri yg jelas2 memotong rantai hak mempunyai keturunan.
    Namun bila ada cara yg lebih baik dengan kbiri kimiawi dan bisa dipilihkan maka sayaanut pemerintah sajaas..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya saya setuju sekali mas Farhan Fauzan. Tidak perlu "DIPOTONG" hak memiliki keturunannya. Bahkan akan lebih baik lagi kalau tidak ada hukuman kebiri, tentu dengan syarat tidak ada kasus kejahatan seksual yang terjadi lagi (Terutama pada anak di bawah umur).

      Tapi kira-kira gimana ya mas? mungkin nggak ya kasus kejahatan seksual lagi tidak terjadi lagi? atau mungkin perlu contoh dulu?

      Delete